Saat Anda memesan rotisserie chicken atau beef teriyaki di kedai roti lapis populer seperti Subway, Anda tentu sudah terbiasa menyebut pesanan tersebut sebagai sub atau submarine sandwich. Roti panjang gandum yang dibelah lalu diisi tumpukan daging, keju, sayuran segar, dan guyuran saus gurih ini memang memiliki nama khas yang unik.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa roti lapis isi daging ini dikaitkan dengan kapal selam (submarine)? Bagaimana sejarah awal mulanya hingga nama kendaraan militer laut tersebut melakat kuat sebagai istilah kuliner internasional? Simak kisah dibalik penamaan unik dan evolusinya berikut ini.

Bentuk Roti yang Menyerupai Kapal Selam Militer

Penjelasan paling mendasar dari sebutan sub terletak pada bentuk fisiknya yang sangat khas. Berbeda dengan sandwich klasik pada umumnya yang menggunakan dua lembar roti tawar berbentuk persegi, sub menggunakan sepotong roti Prancis atau Italia berbentuk silinder panjang yang melengkung lunak.

Ketika roti panjang tersebut dibelah di bagian tengah lalu diisi tumpukan bahan makanan hingga mengembung, bentuk keseluruhannya sangat menyerupai lambung kapal selam (submarine). Istilah ini pertama kali populer di wilayah pesisir timur Amerika Serikat pada awal abad ke-20, di mana teknologi kapal selam militer sedang menjadi perbincangan hangat masyarakat kala itu.

Peran Toko Daging Imigran Italia di Connecticut

Sebagian besar sejarawan kuliner sepakat bahwa penggunaan nama submarine sandwich berakar dari kota Groton, Negara Bagian Connecticut, Amerika Serikat. Pada awal dekade 1920-an, seorang imigran asal Italia bernama Dominic Conti membuka kedai makanan lokal.

Conti menjual roti isi tradisional Italia yang diisi ham, salami, keju provolone, selada, dan minyak zaitun. Suatu hari, Conti mengunjungi pameran kapal selam militer pertama Angkatan Laut AS—yakni kapal USS Holland (SS-1) yang dirancang di galangan kapal terdekat. Terinspirasi oleh bentuk kapal perang laut tersebut, Conti mulai menamai roti lapis buatan kedainya sebagai “Submarine Sandwich”. Makanan gizi tinggi yang praktis ini dengan cepat menjadi favorit para pekerja galangan kapal setempat.

Ledakan Popularitas Selama Perang Dunia II

Popularitas sub melesat tajam ketika meletusnya Perang Dunia II. Galangan kapal di Groton dan New London, Connecticut, beroperasi penuh selama 24 jam untuk memproduksi puluhan kapal selam bagi armada militer Amerika Serikat. Ribuan buruh pabrik dan personel angkatan laut membutuhkan asupan makan siang yang padat, cepat, serta berkalori tinggi.

Submarine sandwich menjadi sajian utama yang dijual dalam jumlah ribuan porsi setiap harinya di sekitar area galangan kapal. Ketika para tentara dan pekerja kapal selesai bertugas dan kembali ke daerah asal masing-masing di seluruh penjuru negeri, mereka membawa serta kegemaran menyantap “roti kapal selam” ini ke kota-kota lain.

Keberagaman Nama Lain di Berbagai Kota

Sebelum istilah sub terstandarisasi secara global melalui waralaba modern, berbagai wilayah di Amerika Serikat sebenarnya memiliki sebutan unik mereka sendiri untuk roti lapis panjang ini:

The Hoagie (Philadelphia)

Di sebut hoagie, nama ini berakar dari para pekerja galangan kapal di Hog Island selama Perang Dunia I. Roti ini awalnya dinamai Hog Island sandwich sebelum akhirnya melunak menjadi hoagie.

The Hero (New York)

Sastrawan kuliner New York pada tahun 1930-an mempopulerkan istilah hero karena porsi roti panjang ini sangat besar dan tebal, sehingga seseorang harus menjadi “pahlawan” (hero) untuk bisa menghabiskan seluruh bagiannya.

The Grinder (New England)

Istilah ini merujuk pada tekstur roti luar yang agak renyah dan alot, sehingga membutuhkan kekuatan gigi ekstra untuk mengunyah (grind) daging serta isian tebal di dalamnya.

The Po’ Boy (New Orleans)

Singkatan dari poor boy, roti baguette khas Louisiana ini lahir dari aksi pemogokan pekerja trem pada tahun 1929, di mana kedai lokal membagikan roti isi secara gratis kepada para pekerja miskin tersebut.

Era Ekspansi Waralaba Global

Proses komersialisasi nama sub hingga terkenal di seluruh dunia tidak lepas dari peran industri waralaba. Pada tahun 1965, seorang pemuda bernama Fred DeLuca dan rekannya Peter Buck membuka kedai Pete’s Super Submarines di Bridgeport, Connecticut.

Kedai roti lapis ini kemudian melakukan penyederhanaan merek menjadi Subway pada tahun 1968. Dengan model bisnis waralaba cepat saji, Subway mengekspansi ribuan gerai ke berbagai negara di dunia. Langkah ini secara tidak langsung mengukuhkan istilah sub sebagai kata baku internasional untuk menyebut sajian roti lapis panjang berisi daging dan sayuran.