Siapa yang bisa menolak kenikmatan sepotong sosis hangat yang dibalut roti lembut, disiram saus mustard kuning, dan diberi topping pilihan? Hot dog kini dikenal sebagai salah satu simbol paling universal dari budaya kuliner Amerika Serikat. Makanan ini selalu hadir di pertandingan bisbol, pesta BBQ halaman belakang, hingga festival jalanan di berbagai belahan dunia.
Namun, di balik kepopulerannya yang masif hari ini, hot dog menyimpan sejarah panjang yang berakar dari tradisi Eropa sebelum akhirnya berkembang pesat di Negeri Paman Sam. Simak kisah perjalanan kuliner sederhana ini hingga berhasil menjadi ikon budaya global.
Akar Tradisi Sosis dari daratan Eropa
Sebelum hot dog menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Amerika, cikal bakalnya telah ada di Eropa selama berabad-abad. Dua kota di Jerman dan Austria kerap diperdebatkan sebagai tempat kelahiran sosis yang menjadi bahan utama hot dog.
Kota Frankfurt di Jerman mengklaim telah menciptakan sosis Frankfurter sejak abad ke-15. Sementara itu, warga Wina (Vienna) di Austria mengeklaim penciptaan sosis Wiener. Kedua jenis sosis berbahan dasar daging sapi atau babi giling ini memiliki bentuk panjang dan mengilap, yang kelak dibawa oleh para imigran menuju benua Amerika.
Gelombang Imigran dan Inovasi Roti Praktis
Pada pertengahan abad ke-19, gelombang imigran asal Jerman berbondong-bondong datang ke Amerika Serikat. Mereka membawa serta tradisi kuliner lokal, termasuk teknik pembuatan sosis. Pada awalnya, sosis dipasarkan dan dijual oleh para pedagang kaki lima di kota-kota besar seperti New York dan St. Louis.
Tantangan utama penjualan sosis panas saat itu adalah kepraktisan bagi para pembeli. Awalnya, pedagang meminjamkan sarung tangan kain agar pembeli tidak kepanasan saat memegang sosis. Namun, cara ini dinilai tidak efisien karena banyak sarung tangan yang tidak kembali.
Sebagai solusinya, para pedagang mulai menjepitkan sosis panas di antara belahan roti panjang (bun). Roti tidak hanya berfungsi sebagai penahan panas, tetapi juga membuat sajian ini menjadi makanan jalanan (street food) yang mudah disantap sambil berjalan.
Pulau Coney dan Lahirnya Industri Hot Dog Modern
Momen krusial yang melambungkan popularitas hot dog terjadi di Coney Island, Brooklyn, New York. Pada tahun 1870, seorang imigran Jerman bernama Charles Feltman membuka kedai roti sosis bakar pertama di tepi pantai tersebut dan meraih sukses luar biasa.
Beberapa dekade kemudian, mantan karyawan Feltman yang bernama Nathan Handwerker membuka kedainya sendiri pada tahun 1916 dengan nama Nathan’s Famous. Nathan menjual hot dog dengan harga lebih terjangkau, yaitu lima sen, setengah dari harga kedai mantan majikannya. Langkah ini membuat hot dog menjadi makanan yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya kaum buruh dan keluarga yang sedang berlibur di Coney Island.
Asal-usul Nama Hot Dog yang Unik
Mengapa hidangan sosis dan roti ini dinamakan “hot dog”? Terdapat dua teori populer mengenai asal-usul sebutan unik ini.
Teori pertama menyebutkan bahwa imigran Jerman membawa anjing peliharaan ras Dachshund yang bertubuh panjang dan berkaki pendek. Karena bentuk sosis mirip dengan anatomi anjing tersebut, orang-orang mulai menyebutnya sebagai “sosis dachshund”. Istilah “hot dog” kemudian muncul sebagai penyederhanaan populer di kalangan masyarakat setempat.
Teori kedua merujuk pada cerita kartun koran karya Thomas Aloysius Dorgan pada awal abad ke-20. Konon, ia menggambarkan anjing dachshund yang diapit roti di pertandingan bisbol, namun karena tidak tahu cara mengeja dachshund, ia menuliskan kata “hot dog”. Meskipun kebenaran kartun ini masih diperdebatkan para sejarawan, istilah “hot dog” terbukti melekat kuat hingga hari ini.
Simbol Bisbol dan Budaya Populer Amerika
Masuknya hot dog ke dalam stadion bisbol pada akhir abad ke-19 mengukuhkan posisinya sebagai makanan nasional. Menyantap hot dog hangat sambil menyaksikan pertandingan bisbol perlahan menjadi ritual wajib warga Amerika.
Keterikatan hot dog dengan identitas nasional semakin diperkuat saat Presiden Franklin D. Roosevelt menyajikan hot dog kepada Raja George VI dari Inggris pada tahun 1939 dalam acara piknik kenegaraan di Hyde Park, New York. Momen sejarah tersebut membuktikan bahwa hot dog telah naik kelas dari sekadar jajanan murah di pinggir jalan menjadi hidangan kebanggaan diplomasi budaya.
Keberagaman Gaya Hot Dog di Berbagai Kota
Seiring penyebarannya ke seluruh penjuru penjuru negara, tiap kota di Amerika Serikat mengembangkan racikan khas hot dog mereka sendiri. Keberagaman racikan ini mencerminkan karakter lokal masyarakat setempat:
Chicago-Style Hot Dog
Sosis sapi dalam roti bertabur biji poppy, dilengkapi mustard kuning, acar hijau cerah, irisan tomat, bawang bombai cincang, acar cabai, dan taburan garam seledri. Satu aturan tidak tertulis di Chicago: dilarang keras menggunakan saus tomat (ketchup).
New York-Style Hot Dog
Sajian klasik yang sederhana dan lugas, biasanya disajikan dengan mustard pedas brown, saus bawang bombai tumis dengan pasta tomat, dan acar kubis (sauerkraut).
Sonoran Hot Dog
Pengaruh kuliner Meksiko yang kuat di wilayah Arizona melahirkan hot dog yang dibungkus daging asap (bacon), dipanggang, lalu disajikan dengan pinto beans, bawang bombai, tomat, mayones, dan saus jalapeño.
